Sunday, April 24, 2011

Kemenkopolhukam Gelar Rakor Khusus Pengamanan Freeport

Ditulis oleh redaksi binpa  

Mimika - Setelah mendengar berbagai aspirasi dari perwakilan karyawan, Tongoi Papua dan Manajemen Freeport Indonesia (FI) di hotel Rimba Papua, Rabu (20/4/2011) menurut rencana Kantor Kementrian Koordinasi Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam) RI akan menggelar rapat koordinasi (rakor) khusus dengan kementrian terkait dan bersama pejabat setingkat Dirjend dan Deputi pekan depan di kantor Kemenkopolhukam.

Selain itu, pihaknya juga akan mengundang Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih untuk memberikan penjelasan tentang penanganan masalah insiden penembakan di areal kerja Freeport Indonesia yang terjadi dua pecan lalu di Mile 37.

Demikian disampaikan Staf Khusus Menkopolhukam yang juga Ketua Desk Penyelesaian Masalah Papua, Mayjend (Pur) Karseno usai menggelar rapat diolog dengan perwakilan karyawan, Tongoi Papua dan Manajemen Freeport Indonesia (FI) di Hotel Rimba Papua, Rabu (20/4/2011). Mantan Deputi I Menkopolhukam RI ini mengatakan, keputusan untuk menggelar rakor khusus setelah Kantor Menkopolhukam menerima, mencermati berbagai aspirasi yang masuk baik dari Manajemen FI, karyawan, Tongoi Papua dan  Paguyuban-Paguyuban yang menghendaki agar pemerintah segera menyelesaikan masalah insiden penembakan yang sering terjadi di areal kerja Freeport Indonesia.  Dalam pertemuan dengan Tongoi Papua dan karyawan FI, permintaan agar pemerintah dan pihak keamanan dapat memberikan jaminan keamanan kepada puluhan ribu karyawan yang bekerja di perusahaan raksasa  tersebut. Dalam rapat karyawan menyampaikan bahwa mereka juga warga Negara Indonesia, yang bekerja di perusahaan besar yang merupakan asset Negara. Mereka juga menyatakan sebagai karyawan mereka membayar pajak untuk Negara, tapi sebagai warga Negara kenapa tidak ada perhatian dan jaminan keamanan bagi mereka di tempat kerja. “ Mereka menyampaikan bahwa sejak insiden penembakan dari keamanan sangat terganggu, karena setelah rekan mereka tertembak dan dibunuh siapa lagi karyawan yang menjadi target berikutnya,” kata Karseno mengulangi apa yang disampaikan karyawan.

Hasil pertemuan dialog ini menjadi masukan berharga bagi pemerintah pusat agar dapat mengambil keputusan yang lebih tegas dalam menangani permasalahan keamanan di lingkungan kerja FI yang selama ini ditangani oleh Polda Papua dan Kodam XVII Cenderawasih melalui Satgas. Semua hasil dialog dan masukan dari karyawan, tim Menkopolhukam mencatat, menganalisa, dan akan merekomendasikan ke Menkopolhukam Jokok Suyanto. Hasil rakor khusus akan melahirkan keputusan-keputusan mengenai penanganan keamanan di FI.
Menjawab pertanyaan wartawan mengenai rencana tim seratus yang terdiri dari Manajemen FI, Tongoi Papua (Perwakilan Karyawan FI), DPC SPSI Mimika, SPSI Freeport Indonesia, untuk bertemu Presiden Susilo Bambang Yudoyono, dia mengatakan itu bisa saja, tapi presiden jadwalnya sangat padat dan harus didaftarkan dari jauh-jauh hari sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Karseno meminta kepada Tongoi Papua dan Manajemen FI, untuk bertemu Menkopolhukam yang sudah menyatakan siap menerima tim seratus. Artinya sama saja bertemu presiden dengan Menkopolhukam karena semuanya akan kembali ke Menkopolhukam bersama instansi terkait lainnya seperti Polri dan TNI.

Mengenai ketikdapuasan karyawan terhadap penanganan masalah insiden penembakan termasuk mengungkapkan siapa-siapa yang terlibat dalam kasus ini, dia menjelaskan telah berkoordinasi dengan Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih. Untuk kasus penembakan pada tahun 2009 lalu, salah satunya sudah ditangkap dan di adili di Makassar Sulsel.

Berkaitan dengan penyelidikan, Ketua Desk Penyelesaian Masalah Papua ini mengakui pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini. Bukti keseriusan, kepolosiian mendatangkan ahli forensik dari Jakarta, dan puslabfor dari Mabes Polri dan Polda Sulsel, Makassar. Mengenai kasus yang hingga hari ini belum terungkap, di mengakui telah menanyakan hal tersebut kepada Polda Papua melalui Waka Polda Papua menerangkan bahwa TKP sudah mengalami perubahaan sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk menguraikan benang kusut insiden penembakan yang menyebabkan dua pejabat FI meninggal dunia dalam kondisi terbakar dan hangus.

Mengenai permintaan karyawan untuk menarik anggota Satgas Amole yang saat ini menjadi pasukan pengamanan di areal FI, dari luar Papua, dia mengatakan itu soal kebijakan ditubuh Polri dalam hal ini Polda Papua bersama Manajemen Freeport Indonesia. Soal jumlah sesuai dengan ancaman. “ Waktu itu ancaman sengit, total pasukannya gede. Ancaman menurun total pasukan dikurangi, bahkan sebelumnya komandan satgas berpangkat Kombes atau Kolonel, sekarang cukup dengan Kompol atau Mayur,” kata Karseno. (HDM/don/erick)
Rabu, 20 April 2011 15:24

Longsor di Areal Freeport, Dua Karyawan Tertimbun

Satu Korban Tewas, Satunya Lagi Belum Ditemukan

JAYAPURA- Musibah longsor kembali terjadi di areal Wet Muck di UG Panel 2 North,Tambang Freeport Tembagapura, Papua, Senin 18 April sekitar pkl 23:00 WIT. Longsor itu menimbun dua alat berat dan dua operatornya ikut tertimbun longsor.   Juru Bicara Polda Papua Kombes Wachyono, mengatakan, longsor terjadi saat aktivitas penambangan berjalan. ''Kegiatan tambang sedang berjalan di lokasi, tiba-tiba terjadi longsor dan tanah menimbun sebuah loader dan rockbreaker. Dua operatornya ikut tertimbun,''ujar Wachyono, Selasa 19 April.  Lanjutnya, upaya pencarian langsung dilakukan tim SAR perusahaan, dengan menyingkirkan tanah longsoran di atas alat berat. ''Tadi pagi sekitar pukul 02.26 WIT, satu jenazah berhasil ditemukan di dalam kabin loader, sedangkan seorang lagi masih dicari,''singkatnya.  Korban yang berhasil ditemukan bernama OBET TATOGO dengan nomor ID 895707 dan berhasil dievakuasi ke RS Tembagapura. Sedangkan seorang lagi, bernama HAMDANI  dengan nomor ID 266194 belum ditemukan. ''Upaya pencarian di dalam longsoran masih terus dilakukan,''ucapnya. Sementara Lokasi longsor saat ini telah diamankan oleh Safety Dept Perusahaan Freeport, dan Polisi langsung ke TKP untuk ikut Melakukan olah TKP.

Tim SAR Freeport Kesulitan Cari Korban Longsor

Tim Search and Rescue (SAR) PT Freeport Indonesia mengalami kesulitan mencari salah satu korban longsor tambang bawah tanah DOZ di area Panel 2 Nort, Tembagapura, Mimika, Papua.

Kapolsek Tembagapura, AKP Sudirman saat dihubungi dari Timika, Selasa, mengatakan kondisi medan yang tertutup material longsoran berupa bebatuan bercampur lumpur dan pasir menyulitkan petugas untuk segera menemukan Hamdani, karyawan PT Freeport yang bekerja sebagai operator alat berat pada tambang bawah tanah (under ground). "Petugas mengalami kesulitan untuk melakukan pencairan satu korban lagi karena material longsor menutupi seluruh terowongan," jelas Sudirman.

Ia mengatakan, bencana longsor yang terjadi pada Senin malam sekitar pukul 23.00 WIT tersebut mengakibatkan rekan Hamdani, Obet Tatogo meninggal dunia.

Jenazah Obet yang ditemukan tim SAR PT Freeport pada Selasa pagi sekitar pukul 02.26 WIT telah dievakuasi ke RS Tembagapura. Saat ditemukan, Obet berada dalam kabin loader yang dikemudikannya.

Kedua korban, kata Sudirman, bekerja sebagai operator alat berat (loader dan rockbreaker) di dalam tambang bawah tanah DOZ PT Freeport.

Sebelumnya, Juru Bicara PT Freeport Indonesia, Ramdani Sirait membenarkan telah terjadi kecelakaan industrial di area Panel 2 Nort tambang bawah tanah DOZ.

"Hingga saat ini satu pekerja telah dinyatakan meninggal dunia dan satu pekerja lainnya sementara dalam proses pencarian dan evakuasi oleh personel UG Mine Rescue dan Petugas K3," ujar Ramdani.

Ia mengatakan, inspektur tambang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah dihubungi untuk melakukan investigasi atas kejadian tersebut.

Akibat kejadian tersebut, menurut Ramdani, untuk sementara waktu operasi tambang DOZ dihentikan guna keperluan investigasi dan pembersihan material longsoran. Secara keseluruhan, katanya, operasional tambang PT Freeport tetap berjalan normal. "PT Freeport sangat berduka atas meninggalnya salah satu karyawan kami tersebut dan rasa belasungkawa sedalam-dalamnya kami sampaikan kepada keluarga. Kami berharap upaya pencarian dan evakuasi akan dilakukan dengan selamat,"harap Ramdani.(jir/binpa/don)

http://bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=...:longsor-di-areal-freeport-dua-karyawan-tertimbun&catid=25:headline&Itemid=96

Friday, April 15, 2011

Jenazah Karyawan Freeport Dipulangkan

TIMIKA [PAPOS]- Jenazah dua orang karyawan PT Freeport Indonesia masing-masing Daniel Mansawan dan Hari Siregar, Sabtu siang (9/4), diterbangkan dari Tembagapura menuju rumah duka di Kuala Kencana dengan menggunakan helikopter Airfast.

Begitu helikopter yang membawa peti jenazah Daniel dan Hari mendarat di helipet dekat Kantor Departemen Security Risk Manajemen (SRM) PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana sekitar pukul 11.00 WIT, para kerabat dan rekan kerja korban yang sudah menunggu pun larut dalam suasana duka.

Selanjutnya, peti jenazah kedua korban dibawa ke rumah duka di perumahan staf RW B Kuala Kencana. Informasi yang dihimpun dari kerabat korban menyebutkan jenazah Daniel dan Hari akan diterbangkan ke Jayapura selanjutnya Jakarta untuk dikebumikan ke kampung halaman mereka masing-masing pada Senin [11/4].

Sebelum diberangkatkan ke Jayapura dan Jakarta, jenazah Daniel dan Hari rencananya akan disemayamkan selama semalam di Kantor PT Freeport Indonesia Kuala Kencana.

Daniel dan Hari yang menjabat Manajer dan Chief Guard pada Departemen SRM PT Freeport Indonesia wilayah dataran rendah itu tewas dengan kondisi yang sangat mengenaskan setelah mobil yang mereka tumpangi terbakar di ruas jalan Tanggul Timur Mil 37 MA 220 menuju Kampung Nayaro, Kamis (7/4) malam.

TNI Dukung Penyisiran

Aparat TNI di Mimika, memberikan dukungan penuh kepada pihak kepolisian setempat dalam melakukan penyisiran di areal PT Freeport Indonesia guna mencari dan menangkap pelaku yang telah menebar teror penembakan terhadap karyawan perusahaan itu.

Komandan Kodim (Dandim) 1710 Mimika Letkol Inf Bonni Christian Pardede di Timika Minggu mengatakan, kegiatan razia senjata tajam dan senjata api di Kota Timika maupun penyisiran di sekitar lokasi kejadian penembakan terhadap mobil karyawan PT Freeport di Mil 37 MA 220 di ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro dilakukan bersama-sama oleh Polri dan TNI.

"Operasi gabungan Polri dan TNI bukan saja kali ini karena ada kejadian, tapi selama ini terus-menerus demikian. Semua kita kerja sama," kata Bonni.

Ia menampik sinyalemen bahwa TNI kecolongan dalam mengawal areal obyek vital nasional (obvitnas) itu lantaran lokasi penembakan dan pembakaran mobil hingga menewaskan dua petinggi security PT Freeport Indonesia pada Rabu (6/4) dan Kamis [7/4] lalu menjadi area pengamanan oleh sejumlah satuan TNI.

Bonni juga membantah keras tudingan berbagai kalangan yang menyebutkan TNI dan Polri selama ini tidak serius dalam memberikan jaminan keamanan kepada karyawan PT Freeport Indonesia dan berbagai perusahaan privatisasi serta kontraktornya.

Penilaian seperti itu disampaikan oleh para karyawan Freeport saat menggelar aksi solidaritas di halaman Kantor Freeport Kuala Kencana dan Kantor DPRD Mimika."Jangan bilang kita tidak serius. Tidak pernah kita melaksanakan tugas dengan tidak serius. Semua kita pingin aman, tidak ada yang menghendaki terjadi sesuatu yang seperti ini," tegas Bonni

Menurut dia, soal jaminan keamanan karyawan dan seluruh masyarakat Mimika menjadi tugas dan tanggung jawab bersama semua pihak.

"Kalau bicara menjamin keamanan karyawan, yah harus semua. Diperlukan adanya sinergitas antarsemua komponen yang ada baik perusahaan maupun pemerintah daerah kalau memang kita semua menyadari bahwa perusahaan dan karyawan merupakan aset bangsa," jelas Bonni.

Kurang Peduli

Sementara itu sejumlah karyawan saat menggelar aksi solidaritas atas kematian dua rekan mereka di halaman Kantor Freeport Kuala Kencana, Sabtu (9/4) mengeluhkan kurang pedulinya Pemkab dan DPRD Mimika atas musibah kemanusiaan tersebut.

"Kasus kematian Daniel Mansawan dan Hari Siregar ini sungguh sangat tragis dan tidak manusiawi karena mereka dibunuh lalu dibakar seperti binatang. Tapi Pemda dan DPRD Mimika sepertinya kurang peduli dengan kejadian ini. Padahal selama ini Pemda Mimika hidup bergantung dari royalti dan pajak-pajak kami karyawan," tutur salah seorang karyawan tambang bawah tanah PT Freeport.

Kekecewaan itu disampaikan karyawan Freeport mengingat pada Jumat (8/4) sore ribuan karyawan menggelar aksi jalan kaki dari Terminal Gorong-gorong Timika menuju Kantor DPRD Mimika, namun setiba di rumah rakyat itu mereka hanya diterima oleh satu orang anggota DPRD yaitu Athanasius Allo Rafra.

Sementara 24 anggota DPRD Mimika yang lain termasuk Ketua, Trifena Tinal tidak berada di tempat. Trifena Tinal yang juga merupakan saudara kandung Bupati Mimika, Klemen Tinal dikhabarkan hingga saat ini bersama Bupati Klemen Tinal sedang bertugas ke Jakarta untuk memenuhi panggilan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi terkait masalah data kependudukan.

Menurut informasi yang dihimpun di Timika, DPRD Mimika akan mengagendakan rapat dengan sejumlah pihak untuk membahas masalah penembakan yang terjadi di areal PT Freeport Indonesia pada hari Selasa [12/4].

"Kalau rapatnya baru terjadi hari Selasa minggu depan, lalu mereka mau bicara apa lagi, padahal ini kasus pelanggaran HAM berat. Kami sangat kecewa dengan ketidakproaktifan institusi DPRD Mimika. Mereka tidak punya hati untuk tanggap terhadap masalah yang dialami warganya. Kami menyesal telah memilih mereka duduk di kursi legislatif," kritik salah seorang isteri karyawan yang ikut berdemo ke DPRD Mimika tahun 2009 saat terjadi kasus penembakan yang menewaskan warga Australia, Drew Nicholas Grant.

Pemerintah Prihatin

Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua, merasa sangat prihatin dengan terjadinya berbagai kasus penembakan terhadap karyawan PT Freeport Indonesia hingga menewaskan dua petinggi keamanan perusahaan itu, Daniel Mansawan dan Hari Siregar.

Wakil Bupati Mimika H Abdul Muis di Timika, Minggu, mengatakan, pemerintah dan seluruh masyarakat Mimika berduka cita dan menyampaikan ucapan belasungkawa kepada keluarga korban.

"Yah, kita sangat prihatin atas kejadian ini. Kami siap untuk memfasilitasi pertemuan semua pihak guna menyelesaikan masalah ini, karena karyawan yang meninggal ini juga adalah warga kami," kata Muis.

Menurut Muis, dengan masih terjadinya aksi teror penembakan di areal PT Freeport Indonesia meskipun lokasi kejadian terletak di luar ruas jalan tambang maka situasi itu mengindikasikan situasi keamanan di Mimika terutama di lingkungan perusahaan tambang emas, tembaga dan perak itu belum nyaman."Ini yang namanya aman tapi tidak nyaman," kata Muis.

Labfor

Guna mengungkap kasus teror penembakan terhadap karyawan Freeport, pada Sabtu [9/4] siang 10 orang anggota tim laboratorium forensik (labfor) polisi dari Makassar telah tiba di Timika.

Wakil Kepala Polres Mimika, Kompol Mada Indra Laksanta mengatakan tim labfor dari Makassar itu terdiri atas ahli balistik dan ahli kebakaran.

Dibantu oleh tim dari Polda Papua dan Satuan Reskrim Polres Mimika, tim labfor Makassar ini nantinya akan melakukan penyelidikan terhadap kendaraan LWB yang ditumpangi Daniel Mansawan dan Hari Siregar.

Kendaraan yang sudah hangus terbakar di Mil 37 MA 220 ruas jalan Tanggul Timur menuju Kampung Nayaro, Kamis (7/4) itu kini telah diamankan di Polres Mimika.

Pada badan kendaraan ringan tersebut ditemukan beberapa lubang, diduga akibat terkena serentetan tembakan oleh orang tak dikenal.

Sementara itu jenazah Daniel dan Hari yang sejak Sabtu (9/4) sudah berada di rumah duka perumahan staf RW B Kuala Kencana dan rencananya pada Minggu siang akan disemayamkan di Kantor PT Freeport Indonesia hingga Senin (11/4) pagi sebelum diterbangkan ke Jayapura dan Jakarta untuk dikebumikan di kampung halaman mereka masing-masing.[bel/ant]

Written by Bel/Ant/Papos  
Monday, 11 April 2011 00:00

Thursday, April 14, 2011

Pemerintah Jamin Keselamatan Karyawan Freeport

JAKARTA [PAPOS]- Pemerintah menjamin keselamatan karyawan PT Freeport Indonesia menyusul insiden penembakan yang menewaskan dua karyawan perusahaan tambang emas dan tembaga asal AS tersebut pada pekan lalu. Menteri ESDM Darwin Saleh di Jakarta, Senin mengatakan, aparat keamanan akan mengusut tuntas insiden penembakan tersebut. "Kami ingin insiden ini menjadi yang terakhir," katanya. Menurut dia, pemerintah melalui Menko Polhukam terus melakukan langkah-langkah konkrit termasuk kemungkinan penambahan personil keamanan di wilayah tersebut. Aparat keamanan, lanjutnya, tentunya juga akan menyisir wilayah tersebut untuk mencari kemungkinan masih adanya kelompok-kelompok bersenjata. "Kejadian ini tidak bisa dibiarkan. Kami minta aparat keamanan baik TNI maupun Polri mengejar dan menangkap siapapun pelakunya," katanya. Darwin juga mengatakan, pemerintah berkewajiban menjaga iklim investasi termasuk keamanannya. Juru bicara Freeport, Ramdani Sirait menambahkan, insiden tersebut tidak menggangu produksi Freeport. "Insiden terjadi jauh dari lokasi dan operasional tambang," katanya. Menurut dia, saat ini, aparat kepolisian masih melakukan identifikasi forensik atas kejadian itu. "Manajemen dan karyawan Freeport menyampaikan rasa duka dan kehilangan mendalam atas musibah ini," ujarnya. Dua petinggi keamanan Freeport yakni Daniel Mansawan dan Hari Siregar ditemukan tewas setelah mobil yang ditumpangi terbakar di ruas Jalan Tanggul Timur Mil 37 MA 220 menuju Kampung Nayaro, Kabupaten Mimika, Papua, pada Kamis (7/4) malam. Berdasarkan identifikasi pihak kepolisian, badan mobil yang ditumpangi Daniel dan Hari yang menjabat Manajer dan Chief Guard pada Departemen SRM wilayah dataran rendah itu, terdapat bekas tembakan. Daniel Mansawan telah dimakamkan di Timika dan Harry Bonatama Siregar dimakamkan di Jakarta.[bel/ant] Written by Bel/Ant/Papos Wednesday, 13 April 2011 00:00

Wednesday, April 6, 2011

HPH Diam-Diam Kirim Log Ke Luar Mimika

TIMIKA [PAPOS]- PT Alas Tirta Kencana (ATK) yang mengantongi izin Hak Pengelolaan Hutan (HPH) di wilayah Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, ditengarai secara diam-diam telah beberapa kali mengirim kayu log ke luar Mimika.PT Alas Tirta Kencana sudah dua kali mengapalkan kayu log ke luar Mimika dengan tujuan yang tidak jelas. "Kalau tidak salah sudah dua kali mereka mengangkut dengan kapal boat ke luar dari Kapiraya. Tujuannya tidak jelas, bisa jadi ke Jera karena di sana ada perusahaan HPH Dia Diani Timber. Kemungkinan lain kayu-kayu itu dimuat ke tengah laut lepas dan di sana sudah ada calon pembeli," tutur sumber yang minta identitasnya tidak dipublikasikan. Menurut Sumber itu, PT Alas Tirta Kencana yang beroperasi di Kapiraya sejak 2008 itu seharusnya belum bisa memproduksi dan mengapalkan kayu log. Mengingat, saat ini perusahaan tersebut sedang membangun infrastruktur jalan sepanjang 29 kilometer ke arah timur menuju Kampung Manaware, Distrik Mimika Barat. Kayu log yang dikirim ke luar, menurut sumber itu, diduga kuat merupakan hasil penebangan sepanjang ruas jalan yang dikerjakan. Sedianya dijadikan "mating-mating" untuk penimbunan jalan guna dilewati alat berat dan truk pengangkut kayu. Saat mengikuti kegiatan reses anggota DPRD Mimika, Athanasius Allo Rafra ke kamp sementara PT Alas Tirta Kencana di Kapiraya, Sabtu (2/4), terlihat sebuah kapal tak boat berlabuh di dermaga Sungai Urumuka tak jauh dari kamp sementara perusahaan itu.Di geladak kapal tersebut terlihat ada beberapa batang kayu log yang sudah diberi nomor seri. Sementara di lokasi kamp sementara PT Alas Tirta Kencana terlihat berapa alat berat dan tumpukan batang kayu log yang juga sudah diberi nomor. Bahkan di lokasi operasi perusahaan yang berada di tengah hutan belantara itu dikawal ketat oleh beberapa orang aparat keamanan dari salah satu kesatuan di Timika.Humas PT Alas Tirta Kencana, Elisabet Yaimaya membantah sinyalemen bahwa, perusahaan tempat dia bekerja itu mengirim kayu log secara diam-diam ke luar Kapiraya."Sampai sekarang belum ada kegiatan pengapalan kayu karena kami baru bangun jalan sepanjang 28 kilometer," jelas perempuan yang disapa Bety itu. Menurut dia, tumpukan batang kayu log di lokasi kamp sementara perusahaan untuk pembuatan "mating-mating" atau penimbun jalan karena material pasir dan batu tidak ada. "Kayu-kayu ini diambil di sepanjang jalan untuk penimbunan jalan supaya bisa dilewati alat berat dan truk, bukan untuk dikirim ke luar karena sampai sekarang perusahaan belum berproduksi," tambahnya. Bety mengatakan, selama satu bulan terakhir aktivitas PT Alas Tirta Kencana mengalami hambatan lantaran tarik ulur masalah batas hak masyarakat empat kampung yaitu Amar, Kawar, Manaware dan Mupuruka. PT Alas Tirta, katanya, sudah menandatangani nota kesepahaman bersama dengan masyarakat empat kampung tersebut selama enam bulan. Pada bulan Maret lalu perusahaan ini telah menyelesaikan pembayaran "uang ketuk pintu" ke masyarakat empat kampung tersebut di mana masing-masing kampung mendapat uang tunai Rp5 juta."Uang itu belum termasuk pembayaran yang lain yang menjadi hak masyarakat," tutur Bety yang merupakan warga asli Mupuruka. Guna menyelesaikan kasus saling klaim hak ulayat, Bety meminta para tokoh masyarakat di empat kampung tersebut bermusyawarah dan hasil kesepakatan mereka diketahui oleh unsur Pemerintahan Distrik Mimika Barat Tengah dan Mimika Barat, Dinas Kehutanan Mimika serta pihak kepolisian setempat. Anggota Komisi A DPRD Mimika, Allo Rafra saat mengunjungi kamp sementara PT Alas Tirta Kencana di Kapiraya meminta perusahaan itu untuk menyelesaikan secara baik hak-hak masyarakat setempat. "Kehadiran perusahaan ini saya harapkan bukan untuk membawa bencana tetapi berkat bagi masyarakat," pinta Allo Rafra mengingatkan. Ia juga berharap perusahaan membuat laporan kegiatannya ke DPRD Mimika, mengingat selama ini kalangan DPRD setempat belum mengetahui kegiatan operasi perusahaan yang mengantongi izin selama 30 tahun tersebut. "Kalau bisa ada laporan ke DPRD Mimika. Kalau ada masalah dengan masyarakat tolong kami juga diberitahu supaya kita bisa fasilitasi, bukan untuk mencari-cari kesalahan perusahaan," tutur mantan Penjabat Bupati Mimika periode 2007-2008 itu. Sesui keputusan Gubernur Papua tahun 2008, semua perusahaan HPH yang beroperasi di wilayah Papua dilarang keras mengirim kayu log ke luar Papua. Perusahaan-perusahaan HPH yang masih beroperasi di Papua diwajibkan membangun pabrik pengolahan kayu di Papua sehingga masyarakat setempat bisa mendapatkan nilai lebih dari keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut.[bel/ant] Written by Bel/Ant/Papos Thursday, 07 April 2011 00:00

Tuesday, April 5, 2011

Pinggiran Kali Woma Longsor, DPU Provinsi Turun Tangan

WAMENA [PAPOS] – Derasnya aliran Sungai Woma akibat curah hujan yang tinggi belakangan ini, mengakibatan tanah yang di atasnya berdiri enam kios dan satu rumah penduduk di ujung pasar Woma yang berada di sisi kali tersebut ikut amblas sedalam lima meter tergerus aliran sungai.

Dinas PU Provinsi Papua langsung tanggap begitu mengetahui longsoran ini dengan turun tangan menanggulangi agar tidak bertambah parah. Andreas, warga masyarakat yang dapurnya ikut amblas terbawa air sungai, menuturkan, pihaknya hanya bisa pasrah dan mengharapkan adanya penanganan yang serius dari pemerintah. “Setiap hujan kami was-was, karena takut rumah kami ambruk terbawa aliran sungai,” ujarnya. Katanya, ke enam tetangganya terpaksa membongkar kiosnya dan mengungsi karena tempat mereka sebelumnya sudah habis terbawa air.

Kepala Devisi Jembatan Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PU Provinsi Papua, Ir. Edy Tupamahu, MM yang meninjau lokasi tersebut kepada Papua Pos, Senin (4/4) mengatakan, kondisi di sungai, adanya perubahan air sungai yang disebabkan selain curah hujan yang cukup tinggi belakangan ini jugau disebabkan karena adanya kegiatan penambangan pasir dan batu yang dilakukan wargat di sekitar area tersebut dengan tidak menyadari dampak dari kegiatannya.

Menyangkut masalah longsor, pihaknya akan segera melakukan penanganan dengan melakukan spail yaitu mereduksi aliran air di pinggiran sungai dengan mengunakan lempengan besi yang akan disatukan menyerupai pagar untuk menahan aliran air. Dengan demikian, longsoran selanjutnya di perumahan penduduk dapat dicegah. Direncanakan bahan-bahannya dari Jayapura untuk pembuatan spail dan pondasi di lokasi longsor itu akan segera didatangkan dari Jayapura juga.

Sementara jembatan Sungai Woma yang mengalami kemiringan sejak setahun lalu dan juga berada tidak jauh dari lokasi longsor, menurut Edy, disebabkan kondisi jembatan sepanjang seratus meter itu yang sudah tua. Untuk itu, katanya, akan segera diganti dengan jembatan baru yang terbuat dari rangka baja yang panjang. Ia juga mengharapkan apabila proyek penanganan ini telah selesai dikerjakan kiranya harus pula dibarengi dengan adanya peraturan dari pemerintah daerah, menyangkut penambangan pasir di sekitar area tersebut, karena apabila dibiarkan maka hal serupa tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi. [iwan]

Written by Iwan/Papos  
Tuesday, 05 April 2011 00:00