Jayapura, (4/9)—Gunung Grasberg atau dalam bahasa Amungme disebut Tenogoma mulai ditambang dengan cara bawah tanah pada 2011 lalu. Penambangan terbuka (open pit mining) di Grasberg akan berakhir pada 2015. Secara perlahan, namun pasti hingga 2022 produksi tambang bawah tanah Grasberg (under mining) mencapai 160.000 ton. Apalagi cadangan bawah tanah di Grasberg sekitar 970 juta ton dengan kadar tembaga 1,09 persen dan emas 0,87 gram per ton.
Cadangan ini akan diambil pada elevasi 2.815 di atas permukaan laut atau sekitar 330 meter di bawah level terendah tambang terbuka Grasberg. Gunung Grasberg sendiri memiliki ketinggian 3600 meter dari atas permukaan laut. Tambang terbuka Grasberg mengontribusi 75 persen, sedangkan tambang bawah tanah sekitar 25 persen.
Sayangnya dari segi kepemilikan saham Freeport Mc Moran menguasai 90,64 saham PT FI dan pemerintah Indonesia hanya memiliki 9,36 persen.”Ini tak adil bagi pemerintah Indonesia,”tulis Prof Dr Ikrar Nusa Bhakti dalam tulisan opininya berjudul, Prahara Tambang Kita, Kompas,9 Agustus 2012.
Melihat kenyataan PT Freeport memiliki saham lebih besar dari Pemerintah Republik Indonesia di atas tambang di atas Negara Kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Ini jelas menggambarkan betapa besarnya dominasi asing atas aset sumber daya alam di negara yang baru saja merayakan 67 tahun kemerdekaan Republik Indonesia(RI).
George Mealey dalam bukunya berjudul Grasberg menyebutkan Freeport merupakan tambang tembaga terbesar ketiga di dunia. Sedangkan untuk emas menempati urutan pertama. Mealey menegaskan kalau di areal ini tersimpan 40,3 milyard pon tembaga dan emas 52,1 juta ons. Deposit ini memiliki nilai jual sebesar 77 milyar dollar AS. “Hingga 45 tahun ke depan penambangan Grasberg masih menguntungkan,”tulis George Mealey ahli tambang Amerika Serikat yang pernah bekerja di Tambang Chili, Amerika Selatan.
Tak heran kalau PT Freeport terus melalukan kontrak karya (KK). Mulai dari KK pertama 1967 hingga kontrak karya kedua pada 1991 yang memperluas area kerjanya. Pada 2012, Freeport memperpanjang KK yang akan berakhir 2021 menjadi 2041. Areanya juga akan diperluas hingga wilayah Nabire. Freeport bukan hanya menambang bagian atas bumi, melainkan juga sampai ke dalam perut bumi. Bahkan menurut Mealey dalam open pit mining di Freeport, ternyata biaya produksi tambang emas dan tembaga sangat murah di dunia.
Menurut Prof Dr Ikrar Nusa Bhakti memang ada manfaat keberadaan Freeport bagi Pemerintah Indonesia, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Mimika, dan sebagian elite sipil, polisi, ketua adat, serta militer di Jakarta dan Papua.
Begitu pula kata Ikrar ada juga program-program tanggung jawab sosial perusahaan yang dilakukan Freeport untuk tujuh suku yang terkena dampak pertambangan tersebut, seperti pemberian beasiswa, pemberdayaan perempuan, pemberdayaan ekonomi, sekolah asrama, dan pelatihan Newangkawi. “Namun, apa yang didapat penduduk setempat tak sebanding dengan penderitaan panjang yang mereka alami sejak tambang mulai dibangun pada 1967,”kata Ikrar Nusa Bhakti.
Per 31 Desember 2011 Freeport memiliki cadangan 119,7 miliar pound tembaga, 33,9 juta ounce emas, 330,3 juta ounce perak, dan 0,86 miliar pound kobalt. Sebanyak 95 persen cadangan Freeport itu ada di tambang Grasberg, Papua.
Pada 20 Desember 2010, cadangan tambang Grasberg 2.574.744 ton dengan kadar tembaga 0,98 persen, emas 0,83 persen gram per ton (g/t atau part per million – ppm), dan perak 4,11 g/t. PT FI mampu memproses 200.000-250.000 ton bijih per hari.
Lepas dari pro dan kontra tentang kontrak karya PT Freeport Ind. Sebenarnya cara-cara VOC masih saja berlaku di Indonesia. Hanya saja dengan baju dan cara yang berbeda untuk menduduki dan menjajah Indonesia. Indonesia kini sangat strategis bagi dua kekuatan penting di dunia antara China dan Amerika Serikat. Sayangnya posisi tawar Indonesia lemah sehingga tak heran kalau Prof Dr Ikrar Nusa Bhakti hanya mengatakan pemerintah hanyalah komprador asing yang selalu meluluskan kepentingan Freeport.(Jubi/Dominggus A Mampioper)